southest island of Indonesia

southest island of Indonesia
deeper more about ethnic

Rabu, 04 Februari 2015

GREEN ECONOMY ; ENERGI RENDAH EMISI



TUGAS
MATA KULIAH EKONOMI HIJAU




 



THEMA
PERANAN EKONOMI HIJAU DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN

DOSEN PENGAMPU :
Dwi Herniti, S.Hut., M.Sc


DISUSUN OLEH
JOHANA ATAUPAH
12314262

INSTITUT TEKNOLOGI YOGYAKARTA
(STTL “YLH”)
2014

ENERGI RENDAH EMISI
(KAJIAN TENTANG PERANAN EKONOMI HIJAU DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN)

1.      LATAR BELAKANG
Green economy sebagai strategi baru pembangunan berwawasan lingkungan semakin semakin populer akhir-akhir ini. Gagasan green economy bahkan merupakan salah satu poin penting yang diusung pada pertemuan KTT Bumi Rio+20 yang diselenggarakan di Rio De Jenairo, Brasil, 20-22 Juni 2010 yang mempertemukan 120 kepala negara dari berbagai penjuru dunia. Gagasan ini bertolak dari kondisi pembangunan yang menyumbang dampak eksternalitas dan kerusakan lingkungan yang besar, hingga menggradasi bumi dan kehidupannya. Tidak sedikit negara di dunia, terutama negara-negara sedang berkembang merasakan kerusakan ekosistem dan musnahnya aset alam oleh pembangunan ekonomi yang hanya "meng-iming-imingkan" pertumbuhan tanpa mempertimbangkan dampak ekologisnya. Karena itu, green economy menjadi sebuah tawaran memperbaharui agenda pembangunan berkelanjutan guna menyelamatkan bumi dan melestarikan lingkungan.
Salah satu sektor yang memiliki kaitan erat dengan kerusakan lingkungan dan dejat juga dengan isu potensi green economy adalah sektor energi. Untuk menjaga kehidupan makhluk bumi perlu upaya bersama menurunkan emisi gas rumah kaca atau mitigasi melalui efisiensi dan konservasi energi, serta penggunaan energi rendah emisi. Bagaimana energi dan teknologi rendah emisi terjangkau secara luas, sementara anggaran dan kemampuan sumber daya terbatgas? Masalah ketersediaan, akses, daya beli dan penerimaan lingkungan atau penyediaan maupun penggunaan energi adalah bagian tak terpisahkan dalam kebijakan energi. Dalam rangka konservasi energi itulah, green economy dapat berperan di sini, sehingga penulis memilih topik energi rendah emisi sebagai topik yang akan dibahas dalam tuga paper mata kuliah ekonomi hijau STTL “YLH” Yogyakarta. Adaptasi perlu mendapat perhatian besar dan tidak dapat ditunda-tunda agar sejalan dengan tujuan mencapai ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

2.      TUJUAN
Tujuan dari pembahasan dalam paper ini adalah untuk mengetahui peranan ekonomi hijau dalam pengelolaan lingkungan, secara spesifik dalam bidang energi

3.      PEMBAHASAN
Energi merupakan salah satu kebutuhan dasar dalam kehidupan masyarakat modern. Selain untuk memasak, energi juga diperlukan untuk penerangan, menggerakkan peralatan, dan mobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya. Hingga saat ini sebagian besar kebutuhan energi dunia dipenuhi oleh energi fosil berupa minyak bumi, gas bumi dan batu bara. Pada 2007, ketiga jenis energi itu menyumbang lebih dari 81 % pasokan energi dunia. (berbagai sumber).
Di Indonesia, energi fosil menduduki 74 % kebutuhan energi pada 2007 dan naik menjadi 79 % pada 2008 (Pusat Informasi Dep ESDM, 2009). Selain energi fosil, penggunaan kayu bakar dan sampah untuk energi dengan cara pembakaran sederhana cukup banyak dijumpai di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Penggunaan energi meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup. Berbagai sumber menyatakan bahwa kebutuhan energi duni diperkirakan naik 40% dala kurun 2007-2030; energi fosil mengisi 77 % dari kenaikan kebutuhan energi tersebut. Dominasi penggunaan energi fosil dan teknologi pemanfaatannya saat ini merupakan salah satu penyebab naiknya konsentrasi gas rumah kaca (GRK), meningkatnya temperatur udara di permukaan bumi, dan berbagai dampak negatif lainnya. Negara-negara maju merupakan penggunan energi fosil terbesar. Mereka berkewajiban mengurangi emisi, namun sulit mengimplementasikan karena kuatir dengan besarnya biaya ekonomi dan sosial yang akan ditanggung, serta kesulitan mengubah gaya hidup. Di sisi lain, kenaikan penggunaan energi di masa depan “berpindah” ke negara-negara berkembang, karena jumlah populasinya besar, laju pertambahan penduduk yang pesar, serta pola perkembangan ekonomi dan gaya hidup yang senantiasa mengacu pada negara-negara maju.
Upaya merespons perubahan iklim melibatkan persoalan jauh lebih kompleks bagi negara berkembang. Berbagai teknologi dan pendekatan baru untuk membatasi dan mengurangai GRK cenderung meningkatkan biaya penyediaan energi dan akses infrastruktur. Keterbatasan dana dan sumber daya lain selalu merupakan kendala besar sebelum meruyaknya isu perubahan iklim, dengan demikian, bila tidak ada perubahan berarti negara-negara di dunia tetap bergantung pada energi fosil untuk menunjang kehidupan masyarakat dan memutar roda perekonomian hingga berapa dekade mendatang.
Jenis energi yang dipakai termasuk cara dan pola penggunaannya berkontribusi besar pada konsentrasi GRK yang ada sekareang beserta konsekuensinya yang amat serius. Kenaikan temperatur yang mulai dirasakan sekarang ini adalah salah satu dampak dari penggunaan energi fosil juga, yang kemudian berlanjut pada perubahan pola dan curah hujan serta timbulnya iklim ekstrim. Kerugian besar termasuk hilangnya nyawa dan harta benda bermunculan di berbagai tempat. Semakin sering terjadi bencana dan semakin luas wilayah yang terkena, semakin besar dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkannya. Disamping itu kenaikan suhu global yang tak terkendali berdampak pada pebrubahan geofisik bumi dan menciptakan malapetaka tak terperi bagi kehidupan manusian dan makhluk lainnya.
Saat ini berlangsung berbagai upaya untuk mencapai kesepakatan global dalam rangka menjaga kenaikan temperatur tidak melebihi 20C, konsentrasi GRK berada pada 450 ppm, dan mengurangi emisi pada 2050. Salah satu contohnya adalah skema CDM (Clean Development Mechanism). Namun, saat ini hany segelintir negara berkembang yang berhasil memanfaatkan peluang CDM; dampaknya pada pengurangan emisi karbon dunia juga masih sangat sedikit.
Berbagai kajian menyebutkan bahwa ptensi terbesar untuk mengurangi laju kenaikan konsentrasi GRK dalam jangka pendek adalah dengan menghemat pemakaian energi melalui efisiensi dan konservasi energi. Langkah ini menghasilkan pengurangan emisi secara cepat dan tidak bisa dipandang remeh, terutama mengatasi kendala terbatasnya dana untuk mencari dan mengembangkan sumber pasokan energi.
Mematikan lampu saat meninggalkan kamar kosong, melepas pengisi baterai telepon selular dan peralatan listrik lainnya saat tidak terpakai, memanfaatkan kertas dengan maksimal (mengurangi waktu operasi printer dan komputer), menurunkan temperatur penyejuk ruangan, dan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor pribadi, adalah beberapa contoh upaya penghematan energi yang dapat dilakukan tanpa biaya tambahan (aplikasi konsep green economy).
Berbagai produk dan teknologi untuk menghemat pemakaian energi juga telah tersedia, misalnya lampu hemat energi, regulator sistem kelistrikan, serta berbagai jenis motor dan kompresor dengan teknologi hemat energi. Memanfaakan limbah (udara panas, air dan lain-lain) dari sebuah proses industri sebagai sumber energi tambahan juga merupakan bagian dari kegiatan itu.
Selain efsisiensi dan konservasi energi, pengendalian konsentrasi GRK juga dapat dilakukan dengan mengembangkan dan menggunakan “energi rendah emisi”. Salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan seperti panas bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, aliran dan terjuanan air, serta gerakan dan  perbedaan suhu lapisan laut. Pemanfaatan energi terbarukan saat ini masih sangat sedikit dibandingkan dengan energi fosil.
Energi rendah emisi juga dapat dihasilkan dari “teknologi rendah emisi” yang mengkonversi sumber daya energi disertai GRK dan polutan udara lain serta dampak lingkungan yang rendah, meskipun berasal dari energi fosil. Peralatan dan rancang bangun penunjang merupakan hal utama dalam teknologi rendah emisi. Salah satu contoh adalah teknologi “Carbon Capture and Storage” untuk menangkap CO2 dan  polutan lain dari pembangkit listrik dan peralatan industri berbahan bakar batu bara sehingga tidak terlepas ke udara bebas. Emisi tersebut kemudian “disimpan” di dalam rongga kerak bumi atau tempat lain yang memenuhi syarat. Gasifikasi batu bara dan batu bara cair  adalah contoh lain energi yang dihasilkan oleh teknologi rendah emisi. Kendaraan bermesin listrik, hibrid, propan, gas dan hidrogen juga bagian dari kelompok itu.
Pengembangan sumber enrgi terbarukan dan energi rendah emisi dalam skala kecil dan menengah juga memungkinkan partisipasi masyarakat lebih luas, mendorong kegiatan ekonomi lokal, dan berdampak positif terhadap pengurangan kemiskinan. Namun, pengembagnan sumber energi terbarukan selama ini banuak dilakukan dengan menggunakan pendekatan program berbasis proyek yang dipekerjakan oleh konsultan atau kontraktor luar daerah tanpa melibatkan masyarakat setempat. Dampak negatifnya, kemampuan lokal tidak akan mungkin tumbuh, rasa tanggung jawab dan kepemilikan terhadap aset menjadi rendah, serta manfaat program hanya berusia pendek. Semua itu berarti pemborosan yang sangat tidak sesuai dengan kondisi negara berkembang yang serba terbatas.

4.      KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa :
-        Pertumbuhan ekonomi yang tinggi bukanlah satu-satunya tujuan pembangunan, karena pertumbuhan haruslah yang berkualitas, inklusif dan berkeadilan. Pertumbuhan ekonomi harus menjawab permasalahan kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan yang krusial dan berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari.  
-        Bercermin pada kondisi Indonesia saat ini, maka pendekatan Ekonomi Hijau (Green ekonomy approach) dapat diartikan sebgai suatu model pendekatan pembangunan ekonomi yang tidak lagi mengandalkan pembangunan ekonomi berbasis eksploitasi sumberdaya alam dan lingkungan yang berlebihan. Ekonomi hijau merupakan suatu lompatan besar meninggalkan praktik-praktik ekonomi yang mementingkan keuntungan jangka pendek yang telah mewariskan berbagai permasalahan yang mendesak untuk ditangani termasuk mengerakan perekonomian yang rendah karbon (low carbon economy).


5.      SARAN
Problem lingkungan tidak boleh lagi diserahkan kepada skema pasar untuk menyelesaikannya. Kita perlu meyakini bahwa kedaulatan dapat menjadi basis yang kuat untuk mengawal pembangunan rendah emisi dan ramah lingkungan. Tentunya juga perlu ditunjang oleh kesadaran bahwa lingkungan memiliki makna yang besar bagi kelangsungan hidup bangsa. Jika ini dapat terinternalisasi pada semua elemen dalam negara, maka apapun konsepnya (=green economy) kelestarian lingkungan tetap akan terjaga. Bukan atas andil asing tetapi oleh komitmen kita bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Depertemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Handbook of Energy Economic Statistic Indonesia 2009 (Jakarta: Pusat Informasi Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, 2009).
http://www.wwf.or.id. Membangun Ekonomi Hijau di Kalimantan Barat dan Perbatasan. Diakses 10 November 2014.
Santosa, Andri & Mangarah Silalahi.2011. Laporan Kajian Kebijakan Kehutanan Masyarakat dan Kesiapannya Dalam REDD+. Bogor: Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat.